Sunday, 18 December 2011

Melukis Malam dan Pantai

Malam dingin karena gelapnya tak bersuara. Aku terbaring bisu di tepi ranjang. Aku baru saja terjaga dari tidurku. Terbangun oleh suara derit bangku di sisi seberang ranjangku.


Di sudut sanalah aku melihat dalam kegelapan. Wanita yang kunikahi menarik bangku mendekati jendela kamar kami. Dibukanya tirai jendela kecil itu, lalu dibukanya pula daun jendela yang telah lama ...hampir rusak.


Wanita itu, berayun ujung rambutnya oleh angin yang menggodanya. Angin yang bisa kurasakan juga dinginnya dari balik selimutku. Aku memilih untuk diam saja, pura-pura masih tidur sambil mengamatinya mencumbu malam.


Wanitaku, yang hanya berbalut kain tipis itu kini tersenyum ke luar jendela. Sendirian di sana, seperti baru berjumpa teman-teman misteriusnya. Di jendela kecil yang usang itulah, ia menjadi kekasihku yang gemar melukis langit, bulan, dan pantai. Dia selalu berkata setelahnya dalam catatan hariannya, "Aku baru saja menemukan impian baruku lagi di pantai dan bertemankan purnama."


lipstik merah

No comments:

Post a Comment